Mencatat sayatan
"Ayah, kalungku mana?"
yang keluar dari mulut bocah
perempuan dua setengah tahun
membentuk sayatan yang lebih
dalam dari menjual alat pancing.
Tatapan ibunya membuat semakin rumit
kemelut sengkarut benang kusut
yang gagal terurai pada pagi
tanpa tidur malam.
Kalimat pendek yang terngiang
membentuk dengung serupa busur
melesat di tengah napas penuh sesak
bergunung-gunung dibakar.
"Kita jual dulu, nanti kalau membaik beli lagi."
yang keluar dari mulut ayah
adalah seuntai kepalsuan pada
lorong gelap panjang tanpa ujung jalan.
Bendungan terakhir jebol juga
di sebuah hari yang getir lalu
azan mengajak salat dengan lebih khusyuk
dan kening membenturkan dirinya sendiri
berkali-kali hingga pecah-ruah air mata.
Janji-janji tersimpan di gudang sewaan
yang luput bayar ongkos bulanan
seorang lusuh berjalan ke jembatan
menatap kematian dari ketinggian
berjarak satu langkah pendek.
"Kalungnya adik disimpan di langit."
yang keluar dari mulut ibu
membalut kebohongan dengan kelembutan
seperti kupu-kupu membakar sayapnya
di persimpangan jalan yang gerimis.
Mustahil ada yang mampu menanggung
mata sembab bertanya bocah sekecil itu
yang seluas langit menerima
rentengan berita palsu dua ribuan.
Dia meraih satu-satu jajanan
lantas meyakininya sebagai kebenaran
menggenggam dan mengajaknya tidur malam
menunggu keajaiban datang mengetuk pintu esok hari.
"Apa yang membuatmu menjual kalung anakmu?"
yang keluar dari mulut nenek
menggandakan sayatan menjadi dua
di hadapan empat huruf Chromebook njepat
dan empat belas penolakan lamaran pekerjaan dalam sepekan.
Sorot mata orang-orang menuding
kegagalan yang berulang untuk memberikan
semacam kenyamanan hidup di dunia
yang konon katanya secuil surga.
Bersama bebek dan angsa di halaman
ke sekian buku sampul gelap berdebu
segelas kopi masih tersaji dengan
pahit dan manis campuran dusta.
"Kau lelaki dewasa, tak layak memperlihatkan punggung terkoyak."
bisik kakek yang keluar dari kuburan
pukul setengah dua dini hari
bersamaan dengan munculnya ampas kopi.
Kesunyian pecah menjadi puing-puing puisi
lantas kupunguti dengan tangan gatal
hendak menampar laju perjalanan
yang entah mengarah ke mana.
Akhirnya, aku menyerah...
padamkanlah neraka yang membakar hutan
dan padamkanlah neraka yang membakar hati
dan pikiran ini, Tuhan!
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi