Apakah blog masih relevan saat ini?
Jawaban singkatnya? Tidak, blogging tidak relevan kalau tujuannya mencari uang --dan apabila kita membuatnya sekarang. Membuat blog baru pada 2026 sama dengan menggali kuburan sendiri.
Tidak terima?

Mengapa blogging saat ini tidak lagi relevan?
Membuat blog di tahun 2026, yang mana melihat zaman dan bagaimana cara manusia mencari informasi, tentu akan membuat aktivitas blogging tidak lagi relevan.
Kau akan lebih cepat mendapatkan uang jika menjadi seorang content creator yang memproduksi video singkat dan lucu. Itu jauh lebih menjanjikan daripada harus belajar menulis yang SEO friendly.
Tetapi, jika tujuan kita melakukan aktivitas blogging tidak semata-mata uang. Jawaban tadi sangat mungkin bisa berubah.
Tujuan blog yang masih relevan saat ini
Sehingga, kita perlu mengubah pertanyaan dari "apakah blog masih relevan saat ini?" menjadi "apa tujuan blog yang masih relevan saat ini?"
Di era media sosial, video pendek, dan kecerdasan keparat seperti sekarang, blogging memang sudah bergeser fungsinya. Berikut tujuan non-uang yang masih rasional, setidaknya menurutku.
1. Melatih berpikir dan menulis
Aku adalah salah satu manusia yang percaya dengan kepercayaan bulat serupa purnama bahwa manusia belajar berpikir dari menulis. Sedangkan menulis, haruslah didahului dengan membaca.
Kita akan membaca sesuatu (entah buku, artikel blog, atau membaca keadaan), menemukan semacam kegelisahan, berpikir tentangnya untuk sebuah solusi atau jalan keluar atau hanya pendapat, dan perlu menulis untuk menyampaikannya.
Demikianlah, saat menikah aku memilih ayat dari surat Al-Alaq alih-alih Ar-Rum ayat 21 atau Adz-Dzariyyat ayat 49 yang umum digunakan dalam menikah.
Menulis memaksa kita merapikan pikiran yang tadinya kabur. Banyak orang baru benar-benar paham sebuah topik setelah mencoba menjelaskannya secara tertulis. Ini keterampilan yang tetap berharga, bahkan makin langka ketika banyak orang mengandalkan "Jarvis" untuk menulis. Menulis menggunakan kecerdasan buatan seperti Jarvis, hanya akan membuat Si Jarvis yang berpikir, bukan kita.
2. Dokumentasi belajar (learning in public)
Catatlah apa saja dengan sebebas-bebasnya. Mencatat apa yang sedang kita pelajari --entah coding, blogging, desain, bahasa, riset, sakit hati, atau apa pun juga-- membuat semua itu lebih melekat. Catatan itu juga menjadi arsip pribadi yang bisa kita buka kembali bertahun-tahun kemudian, dan kadang menolong orang lain yang menghadapi masalah serupa.
Hal tersebut sudah kusampaikan agak panjang di dalam alasan seseorang perlu memiliki blog pribadi, setidaknya satu saja. Entah itu blog gratisan atau berbayar, entah terindeks Google atau mengendap sebagai catatan pribadi yang sangat pribadi.
Dan yang lebih penting dari dokumentasi, menulis itu obat yang mencegah kita bunuh diri--
"Lah, jika memang begitu, mengapa lebih banyak yang bunuh diri justru dari kalangan penulis?"
Sebentar, itu orang lain, jangan menyela dulu. Dan yang lebih penting dari dokumentasi, menulis itu obat yang mencegah kita bunuh diri, setidaknya untukku dan temanku yang sering ngopi bareng.
Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepada kami jika terus-menerus menanggung sengkarut di dalam batok kepala tanpa pernah sekali pun menuliskannya.
3. Kau bisa menambahkan tujuan sendiri
Tidak melulu perlu mencari jawaban dari luar; barangkali jawaban yang sejati justru ada di dalam dirimu. Cobalah rasakan, juga pikirkan, apakah kau sendiri perlu memiliki blog atau tidak. Jika rasa-rasanya itu memang tidak perlu, maka tak usah memusingkan diri dengan mencari afirmasi penguatan dari luar bahwa blogging itu masih relevan.
Blogging itu tidak relevan dan tidak perlu untukku. Singkat. Lurus. Selesai.
Berada dalam dilema perlu dan tidak perlu sebuah blog pribadi
Aku telah mengalami siklus merasa perlu dan tidak perlu punya sebuah blog pribadi. Sehingga, kalau kulihat kembali garis waktu masa lalu, ada setumpuk bangkai blog-blog yang telah mati.
Bisa saja aku menulis untuk disukai di sebuah blog yang bertujuan mencari traffic sebanyak-banyaknya. Itu sudah terbukti di masa lalu hingga runtuh pada 2025 kemarin karena perpanjangan hosting dan domain. Aku bisa membangun blog dengan traffic organik GSC minimal 700 per hari.
Tetapi, setelah membacai tulisan di blog itu, aku tidak menemukan "aku" di dalamnya. Itu seperti bukan tulisanku, dan tidak ada pula kenangan yang cukup layak untuk aku ingat-ingat.
"Apakah dari blog-blog yang telah mati itu kau bisa mendapatkan uang?"
Bisa. Selain dari Adsense, jalur yang lebih cepat adalah menjual backlink (content placement). Banyak orang yang rela mengeluarkan setidaknya 150.000 untuk sebuah artikel yang mengulas usaha mereka di blogku. Tetapi, kembali lagi aku merasa kurang puas karena blog itu seperti bukan "aku". Itu nilai yang menurutku saat itu tidak sebanding dengan kepuasan menulis. Aku merelakannya tidak diperpanjang, dan karenanya sekarang aku malah merasa menyesal.
Tak kusangka ekonomi memiliki andil yang demikian brutal setelah sebelumnya tidak pernah merasa kekurangan. Kalau boleh jujur, aku ingin memiliki sebuah blog lagi, yang menghasilkan, yang juga ada "aku" di dalamnya.
Akhir kata
Kau bebas menilai sendiri apakah blog masih relevan saat ini atau tidak. Catatan ini adalah cermin untukku yang semoga juga menjadi cermin untukmu. Catatan ini bersifat terbuka untuk segala kemungkinan terkait nasib blog dewasa ini.
Salam!
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi