Eksplorasi spot mancing galpas baru di Tulungagung
Galpas adalah singkatan dari galian pasir.
Satu-satunya alasan mengapa saya mengatakan hal itu karena dikritik teman; galpas itu galian pasir atau galian pasar, begitu.
Di Tulungagung, banyak sekali tambang pasir, yang menghasilkan kubangan yang sering disebut sebagai bekas galpas.
Ikan-ikan muncul secara ajaib di sana (biar saya tak perlu menjelaskan bagaimana ikan bisa ada).
Mulai dari ikan nila atau mujaer (ini yang paling banyak), patin liar atau jendil, merah ganting, putihan, bader abang, wader, betutu atau kutuk mendo, dan sebagainya.
Ceritanya pagi itu saya mau ke Blitar dengan membawa sebongkah sengkarut di kepala.
Entah kenapa tiba-tiba motor berbelok sendiri ke spot galpas biasanya. Ternyata, di spot galpas biasanya tampak beberapa orang sedang menjaring. Nahas!
Saya tak sempat bertanya apakah mereka pakai obat atau tidak. Yang jelas, galpas itu tidak bisa dipancingi sama sekali.
Lalu saya mencoba lurus saja, mengikuti jalan bekas truk pengangkut pasir. Di sana ada tiga galpas yang masih beroperasi.
Saya lihat ada seorang pemancing yang tengah disengat matahari pagi menuju siang. Tak pikir panjang, saya langsung parkir motor sekenanya, kemudian mendekati pemancing itu.
Basa-basi seperti biasa; tanya sudah dapat apa belum.
Ia memakai umpan lumut kasar, targetnya jelas; nila atau mujaer.
Sedangkan saat itu saya hanya bawa kecoak batu (ceremenje). Saya bertanya apakah pakai umpan ceremenje ada yang makan. Ia mengatakan mungkin ada, kalau enggak putihan bisa jadi patin.
Semangat dong, saya langsung mengulur tegek, memasang senar, dan menancapkan umpan ceremenje ke kail.
Saya bertanya lagi biasanya di galpas ini memakai kail ukuran berapa. Ia lantas menjawab bahwa ukuran nomor 3 sudah standar.
Agak pesimis sebenarnya apakah nanti dapat ikan atau tidak. Sebab, galpas di Tulungagung rata-rata sudah dieksploitasi gila-gilaan. Apalagi saat itu saya pakai kail ukuran nomor 7. Ia malah terkekeh, bertanya saya ini sebenarnya mau mancing putihan atau lele dumbo.
Daripada pulang dengan membawa rasa penasaran, lebih baik saya mencobanya.
Setengah jam beradu dengan terik sinar matahari, bising truk pengangkut pasir, dan pelampung yang anteng-antengan.
Seperti di sekolah dasar zaman dulu, siapa yang anteng maka bisa pulang duluan. Jadi saya lantas pulang.
Hasilnya apa? Seperti biasa: boncos.
Saya balik kanan melanjutkan perjalanan ke Blitar dengan tidak membawa apa-apa, kecuali sengkarut di dalam batok kepala yang masih belum terurai sama sekali.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi