Supra bapak dan sebuah harapan seorang ayah

Berhenti memancing sementara bukan berarti hobi itu padam. Justru sebaliknya, keinginan segera memancing semakin membara di dada, itu saya tahan dan tekan. Tinggal menunggu waktu luang yang lebih baik untuk melepaskannya.
Suami dilarang mancing ketika istri hamil. Oleh sebab itulah, keinginan memancing mesti berada di tempat aman dan terjaga. Di sisi lain, kita mesti tetap melanjutkan kehidupan rumah tangga untuk mendapat ridho-Nya.
Sekali waktu saya bertanya kepada istri ingin motor apa untuk sehari-hari. Saya cukup ketar-ketir jika ia menjawab Yamaha Nmax, Honda PCX, atau Toyota Pajero. Tak disangka-sangka, ia mengungkapkan ingin Supra Bapak lantaran itu adalah sepeda motor yang ia harapkan sejak masih SMA dahulu.
Supra ae mas mriyayeni, jawabnya dengan lemah lembut seperti biasa.
Jawaban itu sejatinya menyentuh hati saya. Ia paham bahwa suaminya memiliki bakat alami untuk sombong, sehingga membantu menghindarkan diri dengan barang mahal. Serta paham bahwa keadaan ekonomi setelah menikah seperti terkena empasan badai.
Pada akhirnya, Supra Bapak mengantarkan sebuah harapan menjadi seorang ayah. Itu adalah sepeda motor yang lebih murah daripada Kawasaki W175, cukup hemat, dan banyak peminatnya.
Ia menyadari bahwa sebenarnya kita masih miskin. Sementara harga kebutuhan sehari-hari senantiasa meningkat. Dengan upah serabutan yang alakadarnya itu, berat kiranya jika menuntut barang-barang mahal yang tergantung di langit. Belum lagi biaya persalinan sekira enam bulan dari sekarang yang sudah berada di depan mata.
Memiliki istri yang demikian ikhlas menerima dan bersyukur, merupakan suatu berkah indah tersendiri untuk saya. Namun, di ruang dalam hati sebelah keinginan mancing, tersimpan sebuah keyakinan bahwa keadaan ini akan berubah. Terutama setelah buah hati itu melihat dunia ini.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi