Pendapat pribadi tentang AI generate artikel
Saya Rum, sebagaimana yang sudah tampak jelas: seorang pemancing ikan sekaligus blogger.
Gencarnya penggunaan kecerdasan buatan/Artificial Intelligence (selanjutnya disingkat AI), menimbulkan gejolak sengkarut batin sendiri bagi saya.
Melihat media sosial dipenuhi jasa artikel SEO AI, web app autopost AI, generate artikel ilmiah AI, bahkan AI untuk menulis narasi dan sastra; benar-benar bikin dilema.
Ini masih soal generate artikel otomatis, belum lagi sektor yang lebih luas lainnya; desain grafis, video, pemrograman, robotik, bahkan kesehatan dan keuangan.
Aih …, entahlah dengan sektor-sektor yang lainnya. Saya akan fokuskan pendapat pribadi tentang AI pada tulisan dan artikel.
Berpegang pada “Tulisan untuk Manusia Harus Ditulis Manusia”
AI bukanlah manusia, itu adalah sistem yang dapat belajar tanpa pernah lupa. Sederhananya: sebuah sistem sempurna.
Justru tidak ada kesalahan dalam mengingat pun menulis, menjadikan itu sebagai kelemahannya.
Sejak gencarnya AI hingga sekarang, saya termasuk orang yang berpegang pada hal ini:
Tulisan untuk manusia harus ditulis manusia.
Jadi, sudah jelas kecenderungan tulisan ini arahnya ke mana. Kalau kamu sama-sama tidak setuju dengan tulisan AI, maka saya berada di pihakmu.
Tetapi kalau kamu adalah orang yang setuju dengan tulisan AI, pendapat pribadi saya dalam artikel ini akan menjadi pertimbangan yang penting.
Apa yang Tidak Bisa Dilakukan AI dalam Menulis?
Alih-alih membahas apa saja yang bisa dilakukan AI, akan jauh lebih menarik untuk mengganti fokus pada apa yang tidak bisa dilakukan.
Meski saya cenderung tidak setuju terhadap tulisan AI, tidak saya pungkiri bahwa AI itu sempurna, tidak memiliki celah kesalahan dalam tulisan.
Mengapa? Ada dua hal yang membuat AI begitu powerful untuk menulis; pertama, AI memiliki ingatan super yang tidak pernah lupa, dan kedua, AI mampu belajar atas kesalahan yang mungkin terjadi. Satu kesalahan yang mana seterusnya tidak akan pernah terjadi untuk kedua kalinya.
Kombinasi kedua hal tersebut dapat mengubah yang semula kecerdasan buatan menjadi kesadaran buatan. Kalau sudah di tingkat kesadaran, bisa gawat bukan main.
Tulisan AI benar-benar apik, terstruktur, dan berbasis data. Kamu akan mendapatkan tulisan yang kaya informasi, menyesuaikan dengan gaya bahasa pilihan berdasarkan pemrograman, lantas menerapkan tindak lanjut untuk tulisan tersebut. Seperti otomatisasi mengunggah ke website blog dengan unsur visual gambar, table, atau video yang sama-sama digenerate oleh AI.
Lantas, tugas manusia apa? Hanya klik-klik menu yang tersedia. Beres semuanya.
Namun dengan segala macam kesempurnaan tersebut, justru melahirkan satu hal yang menjadi kelemahannya.
Satu-satunya hal yang tidak bisa dilakukan AI adalah membuat kesalahan.
Penting untuk membuka hati dan akal agar kita memahami bahwa kesalahan merupakan bagian paling penting dari sebuah imajinasi. AI tidak memiliki imajinasi tersebut, ia akan membuat tulisan berdasarkan sistem yang sudah diprogram sebelumnya dengan sempurna.
Apakah Saya Tidak Pernah Mencoba Tulisan AI?
Saya orangnya tidak kolot-kolot amat, tentu saja saya pernah mencoba generate berbagai jenis tulisan dengan menggunakan AI. Bukan untuk blog ini, bukan pula untuk tujuan komersil. Namun, sekadar untuk membuktikan bahwa AI benar-benar tidak memiliki imajinasi dalam tulisannya.
Ambil beberapa contoh tulisan seperti; berita, artikel blog, artikel ilmiah, dan narasi.
1. Berita
Berita yang berdasarkan fenomena nyata, mustahil dibuat dengan otomatisasi sistem AI. Sebab berasal dari basis kejadian nyata, yang mana harus ditulis oleh manusia terlebih dahulu sebelum masuk database informasi AI.
Pun kalau sudah masuk ke dalam database, tulisan berita cenderung disikapi oleh AI dengan rewrite atau spinner. Hasilnya bisa sama-sama bebas plagiarisme, benar saja, soalnya mengganti kata umum menjadi khusus dengan makna yang sama.
Contohnya_:_
Seorang pemancing ditemukan mengambang di Sungai Brantas oleh warga Desa Ngunut pagi tadi (9/12), diduga oleng karena minum anggur.
Menjadi:
Seorang pencari ikan ditemukan terbawa arus Sungai Brantas oleh penduduk Desa Ngunut pukul 9 pagi hari ini (9/12), diduga mabuk lantaran mengkonsumsi miras.
Halah ..., manusia pun dengan gampang mencari sinonim, lebih lanjut lagi juga gampang mengubah struktur paragraf agar tidak terlalu kaku.
2. Artikel Blog
Penerapan AI yang paling sering dan masif adalah pembuatan artikel blog. Berdasarkan data Synteshia yang dipublikasi pada 2 Desember 2024, menunjukkan bahwa Google Search 15,16 miliar artikel blog membahas AI.
Itu jumlah yang tidak sedikit, lho ...
Jika perkiraan penduduk dunia adalah 8 miliar, maka setiap nyawa menulis setidaknya dua artikel tentang AI yang dipublikasi dan diindeks ke Google.
Bahkan di Indonesia, kamu bisa dengan sangat bebas mendapatkan tool atau web app AI generate artikel tanpa batasan pembuatan. Sehari menulis 1.000 artikel dengan tema/topik yang berbeda? Bukan masalah.
Tidak ada keraguan pada kuantitas pun kualitasnya, apalagi artikel blog yang evergreen. AI memiliki database raksasa yang siap diolah menjadi artikel yang memuaskan hati.
Klik sini, klik sana, beres ...
Penggunaan AI dalam pembuatan artikel blog justru mendapat dukungan dari Google. Contohnya Google Search Labs yang rilis pada Mei 2023 kemarin.
Penerapannya tidak main-main, di sektor kesehatan misalnya, tanya-jawab dokter daring sudah populer sekarang. Dokter bisa menjawab pertanyaan yang diajukan pasien secara gratis, ditambah dengan kolom khusus jawaban dari AI.
AI memang sangat bermanfaat, ya, sejak awal saya tidak mengatakan bahwa AI itu sia-sia.
Pendapat pribadi saya untuk artikel blog AI adalah, selama memberikan informasi dan manfaat yang positif untuk audiens, tidak masalah. Bermanfaat atau tidaknya tergantung pada sikap audiens setelah membacanya, kan?
3. Artikel Ilmiah
Penerapan AI dalam pembuatan tulisan faktanya juga merambah ke penulisan karya ilmiah. Modelnya sederhana, kamu menginput prompt agar AI membuat artikel ilmiah tentang suatu topik, dilengkapi dengan referensi, dan ditulis menggunakan struktur yang rapi.
Beres, sebuah artikel yang informatif, kaya data, dan terstruktur sudah jadi. Bantuan luar biasa ini membuat manusia mendapatkan kemudahan, sekaligus kebodohan, tentu saja.
Misalnya, kamu mahasiswa akhir yang bingung mencari Kajian Teori Bab II untuk skripsi, tinggal tanya rekomendasi dari AI sumber referensi ilmiah yang sesuai dengan judul.
Atau tak peduli dengan ungkapan diwek i ati ngrogoh rempelo, mintalah AI untuk membuat Kajian Teori tersebut dengan menyetorkan judul. Beres. AI akan jauh lebih tanggap 24 jam daripada harus berdarah-darah memohon bimbingan ke dosen.
Khawatir plagiarisme? Lho lho lho ..., ya pake tools premium, jangan AI gratisan macam Chat GPT.
Cara tersebut cocok untuk kamu yang lebih mengutamakan ijazah alih-alih isi kepala.
4. Sastra
Saat mencoba AI untuk menulis perihal sastra, puisi dan cerita dengan prompt sederhana. Hasilnya ..., benar-benar tidak bisa saya sembunyikan bahwa saya bersedih.
Prompt seperti ini di Chat GPT:
buatkan saya sebuah puisi tentang perjuangan
Menghasilkan tulisan seperti ini:
Perjalanan Perjuangan
Langkah-langkah kecil di jalan sunyi,
Terasa berat, namun tetap aku jalani,
Angin menggigit, hujan menghantam,
Namun tekad tak pernah surut, tak pernah padam.
Di setiap batu yang menghalangi,
Ada semangat yang terus mengalir,
Mimpi besar, meski jauh di mata,
Tetap ku genggam, takkan ku lepaskan.
Pahit, getir seringkali hadir,
Namun dari itu aku belajar,
Bahwa perjuangan tak selalu indah,
Tapi dalamnya, ada kekuatan tak terlihat.
Setiap tetes keringat adalah doa,
Setiap tetesan air mata adalah harapan,
Meski dunia tak selalu adil,
Aku tetap melangkah, tak gentar, tak mundur.
Dan ketika akhirnya tiba ujung jalan,
Aku tahu, bahwa perjuangan ini,
Bukan tentang kemenangan yang tampak,
Tapi tentang jiwa yang telah terbentuk,
Lebih kuat, lebih tegar, lebih utuh.
Saya coba lagi, menggunakan prompt yang sama-sama sederhana seperti ini:
buatkan saya cerita pendek dengan akhir mengejutkan.
Menghasilkan narasi seperti ini:
"Hujan di Senja"
Pagi itu, langit tampak kelabu, mendung menggelantung berat. Angga berjalan cepat, kaki-kakinya menginjak aspal yang mulai basah. Ia sudah terlambat untuk meeting penting di kantor. Tangannya menggenggam erat tas kerja, matanya fokus pada jalan di depan, berusaha menghindari genangan air yang semakin dalam.
Hujan turun deras setelah beberapa menit. Angga berlari menuju kedai kopi favoritnya, berharap bisa berteduh sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Pintu kedai terbuka, dan Angga masuk, menyeka wajahnya yang basah. Di dalam, aroma kopi yang kuat memenuhi udara, memanjakan indera penciumannya.
Barista di belakang meja meliriknya dan tersenyum ramah. "Mau pesan apa, Pak?" tanyanya.
Angga duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Ia mengangkat bahu, ragu-ragu. "Americano, sepertinya," jawabnya, lalu ia menyandarkan tas di samping kursi dan membuka ponselnya.
Sementara menunggu, Angga melihat ke luar jendela. Hujan semakin deras, dan jalanan yang tadinya ramai kini mulai sepi. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang gelisah. Saat matanya menyapu ruangan, ia melihat seorang wanita duduk di sudut kedai, tampak asyik membaca buku. Rambutnya panjang, dengan pakaian berwarna pastel yang elegan. Wanita itu tersenyum samar saat matanya bertemu dengan mata Angga, lalu kembali fokus pada bukunya.
Tak tahu kenapa, Angga merasa ada yang familiar dengan sosok itu. Namun, ia tak terlalu memikirkannya. Sebagai seorang pria yang sibuk, ia sudah terbiasa dengan ketergesaan dan jarang memperhatikan orang di sekitarnya.
Kopi pesanan Angga datang, dan ia menyeruputnya dengan cepat. Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar, wanita itu berdiri dan berjalan mendekat.
"Angga," suara lembut wanita itu membuat Angga menoleh, terkejut.
"Hah?" Angga merasa kebingungannya semakin dalam.
Wanita itu tersenyum lebih lebar, dan matanya menyiratkan kenangan yang dalam. "Aku, Maya. Ingat? Kita dulu... teman dekat, bahkan sempat berpacaran."
Angga terdiam, kepalanya berputar. Maya? Ia mengenal nama itu, tapi wajah yang ada di depannya tampak berbeda. Tiba-tiba, serangkaian ingatan lama mulai muncul dalam pikirannya, memutar kembali kenangan yang ia coba lupakan. Maya, gadis yang pernah ia cintai, tetapi yang hilang tanpa jejak beberapa tahun lalu, setelah sebuah kecelakaan tragis yang menimpa mereka berdua.
"Bagaimana... bagaimana kamu bisa ada di sini?" Angga bertanya terbata-bata.
Maya tertawa pelan. "Aku selalu ada di sini, Angga. Hanya saja, kamu yang memilih untuk melupakan." Dia meletakkan tangan di atas meja, dan dengan senyuman yang tipis, berkata, "Aku sudah lama menunggu kesempatan ini untuk bisa bicara denganmu lagi."
Angga merasa tubuhnya kaku. Kepalanya berdenyut dengan keras. "Kamu... kamu seharusnya sudah..."
Sebelum Angga bisa melanjutkan kata-katanya, Maya berdiri, melangkah mundur, dan melambaikan tangan. "Sampai jumpa lagi, Angga," katanya dengan suara pelan.
Angga membeku. Suasana di sekitar seakan memburam. Ia menatap tempat kosong di sudut kedai, namun Maya sudah menghilang begitu saja, seolah tak pernah ada.
Angga mengejar keluar, tetapi hujan deras dan kabut memudarkan penglihatannya. Ia berdiri di jalanan sepi, dan tiba-tiba ia merasakan gemetar di tangannya. Ia membuka ponsel dan melihat notifikasi dari grup chat teman-temannya. Tanggal yang tertulis di layar ponselnya membuat jantungnya berdegup kencang. Tanggal itu adalah tanggal yang mengingatkannya pada sebuah peristiwa mengerikan: kecelakaan yang telah merenggut nyawa Maya bertahun-tahun yang lalu.
Dan di bawahnya, sebuah pesan yang baru masuk:
"Angga, kami baru saja menerima kabar... ternyata, kecelakaan itu tidak hanya merenggut Maya, tapi juga dirimu. Kamu sudah meninggal di rumah sakit, dua tahun lalu."
Angga terpaku, tubuhnya terasa lemas. Ia mengangkat kepala, menatap langit yang gelap, dan menyadari kebenaran yang pahit—bahwa ia tidak pernah meninggalkan tempat itu. Ia hanya terjebak dalam kenangan yang tak bisa ia lepas.
Fakta yang cukup sembrono, saat saya mencoba memasukkan prompt yang sama, AI memberikan hasil yang berbeda!
Artinya, kamu bisa dengan instan membuat 10 puisi romantis atau apa pun tema yang ingin kamu buat, dan antara satu dengan lainnya berbeda, hanya dengan 1 klik tanpa berpikir. Tinggal masukkan perintah ke AI, simsalabim abrakadabra ..., beberapa bentar akan muncul 10 puisi tersebut.
Di paragraf pertama artikel ini, saya sudah jelas mengatakan bahwa saya adalah seorang pemancing ikan sekaligus blogger. Sama sekali bukan sastrawan.
Jadi, kiranya biarlah kamu yang sastrawan dapat menilai bagaimana hasil tulisan sastra AI dengan prompt sederhana, dan bayangkan apa yang akan ditulis AI jika memberikan prompt kompleks dan spesifik.
Jika ChatGPT Menulis Sastra
Bukan tidak mungkin kamu bisa mengecoh juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Konoha dengan tulisan sastra AI. Heuheuheu (ketawa sekaligus menangis).
Terlalu cepat jika saya menyampaikan akhirnya, sebab gejolak AI sekarang ini hanyalah permulaan. Di masa depan, mungkin akan ada istilah "AI penulis buku best seller" atau "AI penerima nobel sastra".
Aih, nyatanya tak perlu menunggu masa depan, dalam laporan Vice berjudul Winner of Japan’s Top Literary Prize Admits She Used ChatGPT, merupakan penerapan AI dalam sastra yang benar-benar nyata. Meski tidak sepenuhnya, tetap saja AI memberikan sumbangsih yang besar.
Ngomong-ngomong, Akutagawa bukan penghargaan biasa-biasa saja, ini adalah penghargaan bergengsi Jepang yang diadakan dua kali dalam setahun untuk penulis muda.
Lalu di laman resmi Japan Times berjudul Akutagawa Prize draws controversy after win for work that used ChatGPT, penghargaan sastra Jepang yang mestinya sakral, bukan lagi kompetisi antar sastrawan manusia, melainkan sastrawan AI. Heuheuheu ...
Jadi, bolehlah kalau ada istilah lain lagi: pertandingan catur antar AI. Kalau memang begitu, Garry Kimovich Kasparov dan Anatoly Yevgenyevich Karpov harus sungkem ke AI.
Di Indonesia, ada juga contoh buku hasil kolaborasi manusia dan AI, judulnya: Buku Pegangan Mencari Kerja, oleh Dadang Ari Murtono, diterbitkan Indonesia Tera pada April 2024. Meski judulnya begitu, buku ini masuk kategori fiksi narasi.
Mungkin tak apa kita jabarkan penulisnya menjadi: Dadang Ari Murtono X ChatGPT X Sudowrite X Bing AI. Meski peran AI sebagai konsultan proses kreatif.
Kok jadi melebar ke mana-mana, ya. Kembali lagi perihal tulisan. Terlepas dari apa nanti jadinya, saya tetap memegang keyakinan bahwa "tulisan untuk manusia harus ditulis manusia". Itu saja. Dengan segala kekurangan dan imajinasinya. Sekian.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi