Ada tiga hal yang aku ajarkan pada diriku sendiri

Ada tiga hal yang aku ajarkan pada diriku sendiri.

Pertama, jangan jadi orang pada umumnya. Bukan karena kau istimewa tapi justru karena kau terlalu biasa saja. Sedemikian biasa saja sehingga kau bahkan tidak akan merasakan keberadaanmu jika kau cuma jadi satu dari begitu banyak yang lain; yang pada umumnya itu.

Dalam pelajaran ini, kau akan mengenali hidupmu sebagai bukan jalan yang lurus tapi sebagai yang selalu memiliki persimpangan. Jalan yang selalu menawarkan tikungan, alternatif, lorong dan gang kecil. Naik dan turun, berbatu atau terlalu licin. Jalan yang tidak selalu bisa kau tempuh dengan ‘mobilmu’ yang nyaman.

Berbagai jalan ini tercipta oleh dua konsep penjelas bagi kehidupan normal, ‘deviasi’ dan ‘transgresi’ atau ‘penyimpangan’ dan ‘pelanggaran’. Jalan jalan yang tidak penting akan membawamu ke mana tapi ketika kau berada di jalan itu, kau bukan lagi yang pada umumnya.

Kata Jung, jadi normal adalah cita cita para medioker. Dan aku tidak ingin mati, apalagi hidup, sebagai medioker.

Kau boleh saja melihat yang baik, benar, dan bagus dari apa apa yang ditemukan orang lain pada umumnya sebagai yang baik, benar, dan bagus. Tapi, mestinya lebih dari mereka, kau bisa melihat yang baik, benar, dan bagus pada apa yang tidak mereka anggap sedemikian atau bahkan yang mereka anggap buruk, salah, dan jelek.

Ada banyak istilah untuk cara hidup ini, kau bisa memilih istilah manapun untuk kau gunakan sejauh artinya bukan kau, bukan dia, apalagi kalian atau mereka. Tapi juga bukan semata perayaan ‘aku’. Secara lebih filosofis, untuk tidak menyebutnya puitis, aku lebih suka menyebutnya “tarian Stirner dalam ritme degup hidup.”

Persoalannya, jadi ‘aku’ bukan semata “asal berbeda” atau ungkapan “jadilah dirimu sendiri” yang konyol itu. Yang aku tahu untuk kuajarkan padaku, jadi ‘aku’ adalah sebuah proses pencarian yang panjang dan berkelokkelok. Dan, yang tragis, kau tidak akan pernah mencapainya, menjadi ‘aku’.

Lalu untuk apa aku berada di situ? Di jalan itu? Pertama, tidak ada yang namanya “jalan itu” yang ada adalah ratusan-ribuan-jutaan jalan dengan kau yang menjejaki, melangkahi, berlari bahkan menarinari di ratusan-ribuan-jutaan situ yang selalu situ. Jatuh bangun dan jatuh dan bangun dan terus begitu.

Kedua, di penghujung suatu malam di ‘kesunyian’ Jakarta yang nyaris mustahil, aku berdiri hanya dengan celana dalam. Pikiran yang siuman dari sisa asap ganja. Udara sejuk saja setelah hujan semalaman dan langit seperti meja hitam reyot berdebu. Dan aku bertanya, untuk apa?

Kau akan bertanya “untuk apa” atas banyak hal yang kau lakukan tapi kau tidak akan terlalu dungu mengajukan pertanyaan itu ketika kau akan, di antara banyak hal, menulis puisi dan menjadi ‘aku’. Jika ada yang bisa memberiku jawaban ‘untuk apa’ aku ada di sini saat ini, maka aku akan menyembahnya.

Tapi tidak ada yang bisa memberiku jawaban itu.

Jangan bilang aku tidak cukup mencari jawaban. Setidaknya hari ini, dengan lebih dari lima puluh tahun usia dan dua putra serta istri cantik yang beranjak tua dan tiga cincin di pembuluh jantung dan liver infeksi yang terus mengerut dan insulin yang tak lagi mampu memompa gula darah dan lambung yang tercabik seperti Yesus di tiang salib.

Jangan bilang aku tidak cukup mencari jawaban.

Sekira 11119 hari sejak penghujung malam itu, jawabannya ternyata begitu jelas, tidak ada. Tidak ada jawaban, jika kau bertanya untuk apa aku menulis puisi, seperti juga tidak ada jawaban jika kau bertanya untuk apa kau harus jadi ‘aku’.

Saat kau memilih cara hidup itu, pencarian itu, kau hanya bisa terus berjalan atau berhenti dan mati sebelum mati seperti yang lain; seperti kaum medioker yang baik dan berbahagia itu.

bersambung…


3 Desember 2024
Amato Assagaf

Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi