Ah, luar biasa, begini rasanya punggung orang tua
Tak terasa, tiba-tiba terasa, meski tidak sengaja dirasakan; begini rasanya punggung orang tua.
Siapa sangka sekarang saya sudah menjadi orang tua dari anak perempuan super lucu yang kelucuannya di atas lucunya pejabat keparat di negeri ini.
Punggung orang tua, punggung macam apa pula itu?
Itulah punggung di mana retak bersamaan dengan gerak, nyeri beriringan dengan berdiri, duduk yang kelihatan bungkuk.
Biarlah punggung... Memang sudah waktunya.
Belakangan saya membaca tulisan-tulisan lawas di blog-blog lain. Hasilnya luar biasa, belum ada peningkatan hahaha...
Tulisan saya masih begitu liar, teramat sembrono, tidak jelas alurnya. Pemilihan kata sangat payah, susunan alur... Ah sudahlah...
Namun ada baiknya, dan itu adalah satu-satunya.
Dari tulisan cakar-ayam-carut-marut itu, muncul ingatan yang turut datang tatkala membacanya.
Ingatan masa lalu yang sebenarnya kacau-balau. Namun kini, kekacauan dan kebalauan di masa lalu tidak ada apa-apanya. Rasanya biasa saja. Padahal dulu itu pusingnya tujuh keliling.
Apakah itu berarti sekarang jauh lebih kacau-balau, Punggung?
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi