Republik rem blong, Fathul Wahid
Katanya, negeri ini sudah reformasi.
Ibarat sebuah bus:
nama trayek diperbarui,
nomor bus dicat ulang,
slogan ditempel besar-besar di badan kendaraan.
Tetapi bus itu
tetap berjalan tertatih.
Catnya memang baru.
Kursinya lebih empuk.
Ada pendingin udara.
Ada koneksi internet.
Ada aplikasi pengaduan.
Tetapi remnya tetap blong,
dan setirnya selalu diperebutkan.
Setiap lima tahun,
kita diminta memilih sopir baru.
Sopir lama turun sambil melambaikan tangan,
lalu pindah kursi,
menjadi komisaris perusahaan transportasi.
Sopir baru, yang kadang kroni sopir lama,
naik membawa slogan perubahan.
Pidatonya penuh kata-kata segar:
transformasi, hilirisasi, akselerasi, gentengisasi, keadilan sosial,
dan sesekali berteriak,
“Demi rakyat kecil!”
Rakyat kecil pun terharu.
Meski tetap kecil.
Bus melaju lagi.
Lubang jalannya masih sama.
Macetnya masih sama.
Premannya kadang orang yang sama,
hanya warna jaketnya berbeda.
Penumpang kaya duduk nyaman dekat AC,
selonjoran sambil minum kopi.
Penumpang biasa berdiri sambil berpegangan tiang,
kadang pada keyakinan,
kadang pada cicilan.
Yang miskin diminta sabar
karena katanya bus sedang menuju kemajuan.
Yang kritis diminta sopan
karena sopir mudah tersinggung.
Yang protes terlalu keras
disuruh turun di terminal berikutnya
dan “kalau tidak suka, pindah saja ke bus lain.”
Sementara itu,
para oligark duduk di kursi paling belakang,
bermain kartu sambil tertawa terbahak-bahak.
Mereka tidak terlalu peduli siapa sopirnya.
Karena merekalah pemilik bus sebenarnya.
Kadang mereka bertengkar di televisi.
Saling sindir.
Saling lapor.
Saling membuka dosa masa lalu.
Tetapi setelah kamera mati,
mereka makan malam semeja
dan tertawa lepas seperti reuni para besti.
Hukum di bus ini juga unik.
Seperti pintu putar hotel mewah:
terbuka otomatis untuk yang punya kuasa,
tetapi macet untuk rakyat biasa.
Copet recehan diproses cepat.
Maling ban serep bus diproses hati-hati,
katanya demi asas praduga tak bersalah,
sambil lirik kiri-kanan
menghitung kemungkinan kolaborasi.
Kadang penumpang ingin turun.
Tetapi ongkos hidup terlalu mahal,
dan halte alternatif belum tentu ada.
Maka sebagian memilih tidur.
Sebagian pura-pura menikmati perjalanan.
Sebagian lagi menjadi tukang sorak
agar bisa duduk dekat colokan listrik sumber kehidupan.
Bus itu terus melaju, meski terseok,
mengangkut pidato, baliho, hasil survei,
dan janji yang didaur ulang setiap musim pemilu.
Sialnya, para penumpang selalu tertipu.
Tujuan bus tak pernah benar-benar jelas.
Namun kernet selalu berteriak:
“Tenang, Ibu Bapak!
Bus ini sedang menuju masa depan!”
Sementara bau kopling terbakar
makin terasa
dari bawah kursi sopir.
Puisi di atas diambil sepenuhnya dari gejayan.id
Puisi karya Rektor UII, Fathul Wahid ini dibacakannya saat membuka acara Terus Terang Mahfud MD Goes to Campus di halaman Fakultas Hukum Kampus Terpadu UII di Sleman, Selasa, 19 Mei 2026 malam.
Usai menutup puisi, Fathul melakukan aksi teatrikal membakar kertas puisinya dengan korek api. Dan api itu menyimbolkan kopling yang terbakar di bawah kursi sopir.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi