Siapa yang masih membaca Wing Kardjo hari ini?

LAMPU

Sejak lampu-lampu tinggal sepi
kaulah yang jadi surat, sajak
baris-baris boyak
apapun terjadi
tidak bisa mengelak
semua ini bakal pergi
---- ciuman matahari pagi

Dua hari lalu, dengan tubuh yang makin segar, aku bermotor. Menikmati sore di Boulevard maasing bersama sang penyair dalam "selembar daun."

Waktu itu, aku temukan angin pantai, pamflet kampanye, Manado yang gelisah, dan kreativitas puitis yang ternyata tidak harus meminta maaf. penyair ada dalam sejarah, terikat padanya sebagai bagian yang boleh jadi tidak penting baginya.

Tapi puisi tidak. Puisi melepas bebas. Mengatasi segala sejarah. Puisilah yang berumah di atas angin. Bukan cendekiawan, seperti dalam imajinasi Rendra. Apalagi penyair.

Setidaknya itulah yang aku pelajari dari koleksi puisi Wing Kardjo dalam "selembar daun" di bibir pantai Manado sore itu. Pelajaran lain adalah jawaban bagi pertanyaan di awal omelan ini.

Puisi yang baik selalu bekerja dalam cara yang misterius. Siapa Amato yang lahir di Manado hingga diberi kesempatan oleh entah untuk menemukan puitika tak ternilai seorang penyair sunda? Aku tidak bilang tak banyak lagi orang yang masih membaca Wing Kardjo hari ini. Aku tidak tahu apaapa soal itu. Tapi, tetap saja, aku seperti harus bertanya.

Siapa yang masih membaca Wing Kardjo hari ini?


16 November 2024
Amato Assagaf

Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi