Sketsa wahyu, Amato Assagaf

Dan tiba-tiba aku berpikir seolah ada yang bisa menyelamatkanku. Misalnya cahaya matahari yang menerobos masuk jendela kamarku atau kebohongan yang terus diulang-ulang negara atas nama kebaikan bersama.

Yang lainnya begitu pribadi, kemiskinanku yang ngotot dan kesehatanku yang terus memburuk secara membabi buta. Dua kondisi yang menyadarkanku bahwa ada sesuatu di belakang nasib yang telah menghalangiku untuk berdiam diri.

Beberapa bentuk pemikiran telah mengingatkan aku bahwa hidup adalah sesuatu yang sederhana jika aku jalani dan menjadi begitu rumit ketika coba aku pahami. Sedangkan apa yang tersisa di antara keduanya tak harus aku hadapi dengan tangis meski tak bisa juga dengan tawa.

Aku hanya perlu menunggu. Bisikan itu. Wahyu yang pernah dikirimkan kepadaku tapi telah tersesat di masa lalu.


Oktober 2022
Amato Assagaf


Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari blog obor bangsa.

Semacam curhatan yang menurut saya, ringkas. Namun memiliki daya cengkeram yang luar biasa. Dan sialnya, disampaikan dengan nada tenang belaka.

Saya hanya menulis ulang di sini. Menjadi pengingat di masa kemudian jikalau diri terlampau menulis terlalu emosional seperti sebelum-sebelumnya.

Kata-kata Amato mengapa itu begitu sejuk, ya. Meski, ya, tetap muram. Daya cengkeramnya itu yang kebangetan.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi