Mencatat dipeluk kedinginan

Kedinginan yang kumaksud di sini bermakna sebenarnya, secara harfiah, terang-terangan. Dingin yang konon diakibatkan karena jarak matahari berada di titik terjauh dengan bumi dalam jalur lintasan elips. Namun, aku lebih suka menyebutnya sebagai bediding.

Aku kedinginan. Dan benar saja, aku sampai lupa kapan terakhir kali rahang atasku berbenturan dengan rahang bawah begitu rupa karena kedinginan. Memunculkan suara gemeretak gigi-gigi yang saling tabrak. Tangan dan kaki gemetar, bibir kebiruan, kacuk mengerut.

Kedinginan memeluk lebih kuat daripada kehangatan --yang hanya akan membuat aku terlena. Barangkali seperti itulah apa yang disebut temanku berkali-kali dalam kalimat kutipan anonim ini.

Pelaut ulung tidak lahir dari laut yang tenang, tetapi dari samudra yang penuh badai.

Lantas, dia akan selalu melanjutkan dengan begini.

Mereka yang berdiri setelah dihantam badai tidak akan terusik oleh gerimis.

Jadi, bolehlah aku mengatakan begini.

Mereka yang berdiri setelah dipeluk kedinginan tidak akan terusik oleh air sumur.

Dan kenyataannya memang begitu. Setelah mengalami kedinginan selama empat puluh lima menit di jalanan sepi kanan kiri sawah dan kuburan pukul setengah sebelas malam sewaktu musim bediding, air sumur malah terasa hangat.

Untung saja kedinginan yang luar biasa ini tidak mengubah keadaanku menjadi hipopotamus. Eh, maksudku hipotermia. Ngomong-ngomong saat kutulis ini tanganku masih gemetar.

Dalam waktu dekat aku bisa menghangatkan tangan dan kaki, serta mengembalikan bibir biru menjadi seperti semula. Tetapi aku butuh sedikit bantuan untuk memperbaiki kacuk yang mengerut. Yang terakhir itu cukup mudah dan indah, tinggal melakukan sesuatu pada tubuh istriku yang sedang telentang itu.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi