Garis kopi
Menelusuri garis kehidupan seseorang. Mencatat tulisan sejak 2014. Menghilang pada 2025. Mengagumi beberapa. Mengabaikan lainnya. Sepuluh hari menuju ulang tahun yang ke tiga sembilan. Warung kopi yang masih sama. Tiga huruf papan tik Chromebook njepat. Sebuah sore yang dingin. Gelas tinggal ampas. Kretek murah sisa dua. Desa kecil di bagian selatan Jawa. Sengkarut yang kian merajalela. Perut yang keroncongan. Sakit yang rasanya mau datang. Punggung dan tengkuk kaku. Duduk terlalu lama. Kaki kesemutan. Ingatan tentang anak perempuan usia dua tahun. Pilek di hidungnya. Batuk pukul sebelas malam. Wajah mengantuk yang lucu dan kasihan. Matahari pukul setengah tujuh. Susu dan popok habis. Cucian kotor di bak menggunung. Ingatan tentang masa lalu. Keluguan masa kecil. Kalahan. Sunat setelah masuk SMP. Kakak kelas yang cantik. Lembaran dunia remaja. Wajah ayah membiru. Sekilas kesedihan. Cinta monyet. Kebebasan mahasiswa. Anggur dan rum. Mencari uang yang sia-sia. Mengenal nama-nama orang. Lempeng dan biasa. Pernikahan pada usia dua lima. Bulan madu di angkasa. Jatuh ternyata sakit juga. Melihat jam pukul setengah lima. Kopi yang keempat kali. Hidup begini. Mati begitu. Perubahan yang selalu diharapkan. Doa-doa yang senantiasa dipanjatkan. Setiap kecewa yang ditelan bulat-bulat. Kenalan datang silih berganti. Angin berdebu hampir magrib. Raung kereta di jauh sana. Jerit buntu di dekat sini. Tersesat di jalan yang entah.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi