Anisa, Amato Assagaf

Pada malam yang sama ketika aku dilukai Jiwa-Dunia, Anisa bercerita padaku tentang sungai-sungai dan jembatan di kampungnya. Ceritanya tidak bisa menyembuhkan lukaku tapi wajah dan suaranya adalah kelembutan yang terlalu. Tiga puluh lima tahun usia kami terpaut tapi hanya perlu lima menit baginya untuk membawaku masuk ke dalam dunianya. Dan sebegitu cepat, kami menjadi akrab.

“Buatkan aku puisi,” bujuknya dengan suara kanak-kanak yang sempurna. Jam menunjukkan pukul 03.34 disaput udara hujan yang gulita. Ah, dengan pisau yang menancap di liang jantungku malam itu, Anisa telah menjadi puisi di dalam rasa-batinku. Tapi yang terucap olehku bukan kata-kata itu.

“Aku takut, Cha,” kataku gagap, “Puisiku nanti akan menjadi tangan yang menyentuh jiwamu. Mengubahmu dari gadis kampung Motandoy yang mencintai sungai-sungai menjadi diva urban yang kehilangan kasih sayang.” Anisa menatap mataku, seolah sedang berkaca. Aku berpaling wajah, luka sepiku berdarah.

Sementara di seberang sana. Di kotaku yang telah aku tinggalkan, puisiku telah sempurna berubah menjadi kayu bakar dusta manusia lata. Karena itu aku sadar, Anisa tak mungkin datang dari angan hampa. Dia terlalu nyata hadir di malam itu; malam ketika aku dilukai Jiwa-Dunia. Carl Gustav Jung menamainya sinkronisitas, kebetulan yang lahir dari rahim semesta.

Dan Anisa adalah sinkronisitas yang tersenyum dengan mata basah ketika dia membuatkan aku kopi dan memecahkan telur untuk kumakan di pagi buta. Lalu dia duduk bersila di atas bangku di depanku dan bercerita tentang cita-cita juga keluarganya. Anisa adalah sinkronisitas yang menjadi puisi. Seolah hendak menyambung cerita antara aku dengan gadis merah jambu yang dibunuh egonya sendiri beberapa tahun yang lalu.

Dadaku berguncang hebat pada fajar yang samar itu. Tidak, Anisa. Sepiku adalah kutukan bagi jiwa-jiwa lugu seperti dirimu. Gadis remaja itu menggeser posisinya. Dia seperti menangkap kesepian yang merayap di balik kulitku. Tapi tahukah dia bahwa malam ini sepiku adalah sebilah pisau yang ditikamkan ke liang jantungku oleh orang yang begitu aku cintai?

Anisa memiringkan kepalanya dengan wajah bersemu merah saat seorang remaja lelaki yang sudah dikenalnya menggodanya sambil berlalu. “Aku tidak pernah menanggapi mereka dengan serius,” katanya menunggu reaksiku. Tapi pikiranku telah berpindah jauh dari kafe itu. Terbang menembus mundus imaginalis, menemui Jiwa-Dunia yang angkuh dan khianat.

“Kenapa? Kenapa pisau? Kenapa dusta? Kenapa kau tambahkan luka pada sepiku? Jika kau memang tak bisa mencintaiku, setidaknya jangan melukaiku.” Di ujung ucapan itu perih luka sepiku membunuh seluruh perasaanku pada Jiwa-Dunia. Dan dalam sedetik aku telah kembali duduk di depan Anisa.

“Buatkan aku puisi,” bujuknya dengan suara kanak-kanak yang sempurna. “Aku punya beberapa foto di FB-ku, tapi jika tak ada yang cocok, aku akan memberikan satu fotoku untuk puisi itu,” katanya menyambung. Aku mengangguk tapi tidak berjanji. Dengan perih di dada yang kutanggung saat ini, bagaimana aku akan mencipta puisi untuk gadis sebaik Anisa?


Sore ini, sendiri di rumah panggung beranda kota, aku mencoret setumpuk kata untuk Anisa. Sebuah janji.

Suatu hari nanti aku akan membuatkan untukmu puisi tentang sungai-sungai. Suatu hari nanti, Anisa. Suatu hari nanti.

CERITA PERTAMA UNTUK ANISA

Dalam perjalananku ada sungai, Anisa. Airnya mengalir dari mata berjuta lelaki yang terluka. Sejuk tapi pahit seperti hati mereka. Dan dari bunyi arusnya kau akan mendengar ratapan panjang. Kau boleh mandi di situ, Anisa. Tapi jangan menyelam terlalu dalam. Karena pada dasar sungai itu, kau akan berjumpa wajah seorang penyair yang dilukai puisinya sendiri.

CERITA KEDUA UNTUK ANISA

Jalan hijau padang kenangan adalah jejak wajahmu yang kuikuti kata demi kata. Di situ ada senyum manis, kubus harapan, mata indah, kisah sungai, bahkan tahi lalat yang mengilhamkan keindahan.

Lalu sejak kapan semuanya menjadi masalahmu, Anisa? Hidup hanya sejenak ada, wajahmu abadi.

15-17 Februari 2021
Amato


Catatan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi