Lebih suka membaca tulisan blogger luar negeri
Beberapa hari ini aku sering membaca tulisan blogger luar negeri. Bukan karena aku memahami bahasa mereka, tentu saja, bahasa Inggris bagiku sama sulitnya dengan memahami setiap bagian mesin motor. Ada sebuah fitur yang disebut "terjemahan" di peramban, termasuk peramban milikmu, yang mampu mengalihbahasakan dengan satu klik.
Alasannya kenapa aku lebih suka membaca tulisan blogger luar negeri barangkali sudah terang benderang. Mereka, kebanyakan, menulis dengan lebih --rasanya-- tulus.
Kita bisa sama-sama membandingkan sebuah topik yang ditulis blogger Indonesia dan luar negeri. Misalnya tentang "kelelahan blogging".
Blogger Indonesia, sejauh pencarian yang kulakukan, memiliki struktur template yang itu-itu saja. Mulai dari definisi, cara mengatasi, dan diakhiri dengan kesimpulan yang dibagi-bagi per bagian heading. Hei! Aku butuh lebih banyak umpatan dan luapan dari hati.
Dan kau bisa mencari topik-topik lain dari blogger Indonesia yang tidak akan jauh-jauh dari template struktur keparat yang membosankan itu.
Mereka entah kenapa tunduk pada aturan omong kosong perihal SEO yang mengharuskan membagi tulisan panjang menjadi bagian-bagian seolah-olah itu bisa membantu setiap pembaca. Tidak semua pembaca butuh itu. Beberapa, termasuk aku, lebih suka mereka menyajikan umpatan dan makian dan keluh dan kesah di blognya.
Dan aku tidak sebatas berkomentar. Aku juga menerapkannya, jauh-jauh hari dan konsisten, pada blog rum.web.id ini, tentu saja. Tidak akan kautemui tulisan yang terlampau tunduk pada aturan yang konon katanya disukai Google. Persetan dengan Google dan antek-anteknya. Aku hanya menulis untuk diriku sendiri, tidak untuk menyenangkanmu, apalagi Google.
Meski, pada akhirnya aku terpaksa harus lelah lantaran memang tidak ada yang membaca. Biarlah. Itu hal yang perlu aku kompromi atas segala pilihan yang kupilih.
Sehingga, kita akan sampai pada pemahaman bahwa blogger luar negeri bisa menulis sebebas itu karena dari tulisan yang bebas tetap mendapatkan manfaat. Mereka memperoleh apresiasi yang jujur dari blogger lainnya, dan jelas, di samping pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang terjamin. Itu yang tidak ada di blogger Indonesia.
Aku pun tidak bisa menyalahkan bagaimana cara blogger Indonesia menulis. Sebab, mereka mencari penghidupan dari blog sembari terus menghidupi blog; gunung ganda yang berada di pundak rapuh.
Jika tulisan di blog mereka tidak ada yang membaca, maka blog tidak bisa menghidupi mereka karena tidak ada yang mau menghidupi mereka, termasuk pemerintah. Dalam kerangka ini, tunduk pada aturan SEO dan apa yang disukai Google tidak lain merupakan keterpaksaan. Andaikan, kebutuhan akan penghidupan sudah tuntas sedari awal, aku yakin budaya blogging di Indonesia akan lebih berwarna.
Dan ada sebuah kenyataan paradoks yang barangkali sulit diterima. Bahwa rum.web.id adalah satu-satunya blog yang kutulis dengan jujur dan bebas tanpa topeng; sedangkan aku memiliki blog-blog lain yang kutulis selalu dengan topeng.
Tentu, masih ada blogger yang bisa menulis dengan bebas tentang pengalamannya sehari-hari atau catatan konyol yang tidak akan berkesan apa-apa selain untuknya. Tetapi hanya segelintir. Dan mereka adalah blogger yang meraih kemapanan dari bidang selain blog.
Segelintir blogger Indonesia itulah yang kumaksud sebagai kebanyakan blogger luar negeri.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi