Mencatat sound horeg
Sekarang pukul 21:35 dan kepalaku berdenyut ngelu sialan keparat anjing-buduk-bohemian-kapiran!
Seharusnya, aku memutuskan tetap bertahan di warung kopi jauh sana. Tidak pulang dulu karena truk sound horeg tengah menggelar gelegar kengerian celaka! Tetapi itu tidak penting. Kini aku sudah berada di sini. Melihat tumpukan pengeras suara serupa corong sangkakala dan sorot lampu yang sama-sama celaka. Sungguh, jangan sekali-kali menyamakan lampu kelap-kelip ini dengan kunang-kunang! Ini lebih mirip anak panah yang terus-menerus dilesatkan ke matamu. Aku baru duduk sepuluh menit dan pening di kepalaku lebih hebat daripada 12 jam di warung kopi tanpa makan dan minum.
Sialnya, dalam kondisi ini aku memutuskan untuk menulis catatan. Namun yang paling sial adalah truk keparat dan tumpukan pengeras suara setinggi langit itu tepat berada di depan rumah, rumah mertua, tentu saja. Mereka melakukan semacam sound check untuk sebuah gelaran yang lebih meriah pada Minggu, dua hari dari sekarang.
Suara yang keluar memaksa kaca rumah dengan lebih minimal 50 cm harus dilakban biar getarnya tidak sampai memecahkan. Entah kenapa, ratusan orang yang berkumpul di sini seolah bisa menikmati. Mereka menari-nari dalam jarak satu meter dari moncong sound, yang jika aku berada di posisi mereka niscaya jiwaku turut bergetar dengan brutal dan tidak menutup kemungkinan keluar dari badan!
Dan kalau kau bertanya siapa pemilik gendang telinga paling perkasa, kau sudah tahu jawabannya, merekalah para penikmat sound horeg. Ya, barangkali seperti ini rasanya menjadi minoritas. Aku dan istriku adalah dua dari sedikit manusia Jawa Timur yang tidak bisa menikmati sound horeg dalam artian apa pun.
Kami akan lebih suka menghabiskan malam dalam kesunyian dan selidik rayap tangan pada kelangkang sebelum berakhir dengan pergumulan hangat daripada membiarkan mata dan telinga kami terkontaminasi racun pikiran sinting.
Mengobrol dalam kebisingan ini nyaris mustahil meski lawan bicara hanya dua jengkal darimu. Dari obrolan susah payah yang akhirnya menggunakan bahasa isyarat kuketahui bahwa untuk menggelar hajat sound horeg membutuhkan setidaknya 45 juta. Itu uang yang banyak, dan bermanfaat, kalau saja digunakan untuk membelikan pempers dan susu anak balita seluruh desa.
Sekarang pukul 22:15 namun raung pengeras suara makin membabi buta seolah tadi hanyalah pembuka.
Baiklah. Aku menyerah. Aku masuk ke rumah, ke kamar, menutup pintu, membenamkan kepala agar memperoleh perlindungan dari bantal. Tak lagi bisa kubayangkan bagaimana kebisingan yang akan dihasilkan jika puluhan truk pengangkut pengeras suara seperti itu berjejer belasan pada hari Minggu. Mengerikan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi