Pintu lebih besar daripada gembok

A door is larger than a lock,
and a lock is larger than a key.
But the key, the smallest of all,
has the power to unlock the entire house.

Saya sedang scroll Facebook, perangkat lunak raksasa yang entah bagaimana seperti lebih mengetahui diri kita daripada kita sendiri.

Sebelumnya, saya sempat terperanjat, apakah benar adanya jika Facebook memiliki akses ke mikrofon kita, merekamnya diam-diam, lantas menyarankan feed yang benar-benar related dengan kehidupan kita sekarang?

Beberapa waktu lalu, saya secara tidak sengaja bertemu sastrawan betulan Tulungagung, Hari Niskala di sebuah warung kopi murah-sederhana-agak-kumuh.

Dengan memberanikan diri, saya mendatangi orang itu. Mengulurkan tangan guna menjabat tangannya sembari berharap was-was, dalam hati, apakah orang ini akan sudi balas menjabat tangan saya?

Ternyata ia melakukannya.

Saya meminta izin untuk duduk di kursi sebelahnya setelah melihat tidak ada orang yang duduk di sana.

Pertama-tama, saya bertanya bahwa apakah ia tengah menunggu seseorang. Ia jawab singkat, tidak. Lalu saya kembali bertanya bahwa apa yang ia lakukan di warung kopi murah-sederhana-agak-kumuh ini, bukannya seharusnya ia ngopi di cafe-elite-para-sastrawan-betulan?

Ia tidak menjawab. Hanya terkekeh aneh seolah menyimpan segudang semburan jawaban yang tertahan untuk keluar.

Obrolan kami makin akrab setelah ia tahu saya di waktu yang lebih luang menulis cerita di blog. Hingga pada pembahasan yang agak riskan, mengapa hanya "Anda", kata ganti orang yang ditulis kapital di awal.

Tentu saja, tidak ada jawaban dari kami berdua yang benar-benar serius menanggapinya. Hanya seperti, itu menunjukkan 'jarak', atau itu sebagai bentuk penghormatan untuk lawan bicara, atau, itu sekadar formalitas bagi para bojuis.

Tidak ada yang berdasarkan data.

Ia kini bisa menimpali, katanya bahwa Sulak pun menulisnya hanya dengan "anda", tidak "Anda".

Saya bertanya bahwa apakah kita boleh menulis apa saja dengan cara bagaimana saja? Katanya bahwa penulis bebas menulis, pembaca bebas menilai.

Sayang sekali, kata saya kemudian, saya menjelaskan dengan pelan dan hati-hati bahwa saya sama sekali bukan penulis seperti dirinya. Saya hanya manusia biasa yang di waktu luang memancing ikan, dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, di waktu yang lebih luang menulis cerita.

Nah, setelah pertemuan singkat dengan Hari Niskala, keesokan harinya ketika scroll Facebook, feed muncul unggahan dari halaman terverifikasi (centang biru) Perpustakaan Nasional.

Sebuah feed dengan judul "PENEMU 'ANDA'", dan sebuah gambar kliping koran Suara Karya, 14-7-1981 halaman 5 berjudul "Riwayat kata "Anda" dan penemunya" oleh Sumardjo.

Begini:

Pada tahun 1930-an, ada seorang anak sekitar usia SD, merasa heran melihat banyak orang di lingkungan ia tinggal yang lebih suka berbahasa Belanda daripada bahasa Melayu.

Ada sebagian orang pribumi berbicara dengan bahasa Belanda secara lengkap dan benar, ada juga yang sepotong-potong saja, dicampur dengan bahasa Melayu. Kata-kata yang sering diucapkan bercampur bahasa melayu tersebut seperti “ikke” menggantikan kata “saya” dan kata “ij” yang bunyinya sering “i” menggantikan kata “Kamu”, “Engkau” atau “kau”. Lucunya banyak orang yang tidak pernah mempelajari bahasa Belanda, ikut-ikutan menggunakan kata-kata dari bahasa Belanda.

Anak yang serba ingin tahu itu bernama Sabirin, lahir di Bukittinggi pada 5 Agustus 1917. Sabirin sejak kelas tiga Sekolah Dasar sudah sering membaca mingguan Pandji Poestaka, keluaran Balai Pustaka. Kebetulan ayahnya berlangganan mingguan tersebut. Buku-buku yang ada di Perpustakaan sekolahnya banyak yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Di era itu, sekolah-sekolah khususnya di Sumatera Barat, ada pelajaran bahasa Indonesia yang ditulis dengan huruf Arab. Begitu pula sekolahnya Sabirin. Kalau sore Sabirin mengaji, maka pelajaran bahasa Melayu ditulis dengan huruf Arab termasuk pelajaran yang mudah baginya. Ditambah lagi, ia termasuk murid yang suka membaca. Sabirin suka pelajaran bahasa, ia memiliki ketelitian dalam mencermati kata-kata atau kalimat yang kurang pantas dalam pemakaiannya.

Pada tahun 1939 di Padang dibentuk “Jeughd Organisatie Minangkabau” atau Organisasi Pemuda Minangkabau yang pertama dan Sabirin ikut. Pada kesempatan itu Sabirin menyampaikan isi hatinya tentang banyaknya orang Indonesia yang menggunakan kata-kata dari bahasa Belanda dalam kesehariannya. Mengapa tidak memakai bahasa Indonesia saja secara baik. Selesai berbicara, orang yang hadir menyambutkan dengan tepuk tangan dan tertawa. Tetapi tidak ada yang menanggapi sedikitpun.

Waktu terus berjalan, Pemuda Sabirin pantang menyerah. Ia mencoba mengutarakan isi hatinya melalui tulisan dalam rublik Pikiran Pembaca di Harian Penerangan pada hari Rabu 20 Juli 1949. Ia sertakan juga sebuah pantun, dengan harapan akan terjadi perubahan, berikut pantunnya:

Bahasaku:
Bisa kuterima sepuluh jari
Kugenggam sejak dari rahim ibuku
Kuberbahasakan setiap hari
Kukarangkan mudah bersajak ruku
Kendati cangung kau tuturkan
Tetapi fasihlah di lidah saya
Kendati basa tak kau ragakan
Kuanggap juga bahasa raja
Kalau ada nan menanyakan
Wahai kau bangsa apa?
Maka bahasakulah yang menyala
Bahwa aku anak Indonesia Raya

SABIRIN

Tulisan Sabirin tidak ada yang menggapi, meskipun tentu saja banyak yang membaca.

Pada tahun 1953 di Padang diselenggarakan ceramah tentang Bahasa Indonesia. Saat itu Sabirin sudah menjadi anggota TNI-AU berpangkat Letda. Kembali Sabirin menyampaikan unek-uneknya menyangkut bahasa Indonesia. Sayang keburu dipotong seorang Letnan yang duduk di sebelahnya. Itupun tidak mematahkan semangatnya.

Letnan Sabirin berusaha mencari kata ganti orang kedua, asli dari bahasa Indonesia. Bukan dari bahasa asing seperti “you” atau “U”.

Pada 14 Desember 1955, ia membeli kamus modern Bahasa Indonesia yang disusun oleh Sutan Muhammad Zaid. Beberapa kali kamus ini dibaca dengan cermat. Di halaman 36, Ia menemukan sesuatu yang dianggap menarik. Ia mendapatkan kata “anakanda” beserta keterangannya. Bahwa anakanda atau anakda atau ananda, artinya anak yang mulia. Tambahan anda, nda atau d. Awalnya dari bahsa Kawi yang artinya yang mulia. Mula-mula anakanda dipakai untuk anak-anak raja saja. Kemudian dipakai sehari-hari, jika orang menghormati orang yang patut dipanggil anak.

Berhari-hari Sabirin memperhatikan kata anda. Ia mencoba menulis sesuatu konsep yang ada hubungannya dengan anda. Konsep demi konsep diperbaiki dan disempurnakan.

Singkat cerita, pada 21 Februari 1957, ia mengirim naskah ke redaksi koran Pedoman yang beralamat di jalan Budi Kemuliaan Jakarta. Tembusannya dikirim ke Ketua Lembaga Bahasa dan Budaya Fakultas Sastra dan Filsafat UI, Ketua Seksi E.P.P. dan DPR waktu Mr Moh. Yamin, Prof Mr Sultan Takdir Alijahbana dan Mayor Udara Suryono.

Pada tanggal 28 Feberuari 1957 di harian Pedoman no 300, tulisan Pak Sabirin tampil dengan judul: Memperkenalkan kata baru “ANDA”. Berikut potongan artikel nya:

Memperkenalkan kata baru:

“Anda” kepada siapa saja

- Seperti “you” bahasa Inggris

- Kalau “kamu” dan “kau” dianggap terlalu akrab dan masih “dipergunakannya “jij”, “U”, “ente” dan “you’

Oleh: Sabirin

Demikian sedikit kisah ringkas bagaimana Pak Sabirin menemukan kata “ANDA” serta perjuangan memperkenalkannya kepada masyarakat Indonesia.

Pembukaan panjang lebar itu cuma pembuka untuk sesuatu yang mau saya bahas. Berangkat dari betapa 'mengerikan' Facebook dan media sosial lain yang seolah-olah tahu.

Masih bersumber dari Facebook, saya scroll sore ini dalam kondisi agak runyam. Pikiran saya bercabang, penuh sengkarut, tidak fokus, dan tidak jelas ke mana arahnya.

Lantas, saya menemukan feed video reel yang berisi kata-kata itu, kata-kata yang saya tulis di bagian pertama catatan ini.

Video tersebut bisa kalian lihat di sini.

A door is larger than a lock,
and a lock is larger than a key.
But the key, the smallest of all,
has the power to unlock the entire house.

Pintu lebih besar daripada gembok,
dan gembok lebih besar daripada kunci.
Namun kunci, yang paling kecil dari semuanya,
punya kekuatan untuk membuka seluruh rumah.

Selanjutnya, seorang nenek (hasil generate AI), membacakan kata-kata berikutnya:

so sometimes all we need is a small and thougful solution that will solve our major problems

jadi terkadang yang kita butuhkan hanyalah solusi kecil dan bijaksana yang akan menyelesaikan masalah-masalah besar kita

Oke, saya tidak terlalu peduli. Sebab, memang pikiran saya sama sekali tidak fokus.

Lanjut saya scroll, hasrat terus scroll untuk mencapai akhir reels begitu menggebu.

Di video berikutnya, benar-benar mengejutkan. Video komedi yang diperankan saudara-saudara kita dari Nigeria, memberi nasihat tentang salat.

Video tersebut bisa kalian lihat di sini.

Jadi, ada empat orang sedang bermain bola. Salah seorang menggiring bola zig-zag melewati dua lainnya, tinggal kiper di pertahanan terakhir.

Ia dengan cerdik manuver cepat dari kiri ke kanan, berhasil membikin jatuh kiper itu. Nyaris saja sebuah tendangan kecil membuatnya memperoleh gol, azan terdengar. Tanpa ba-bi-bu, tanpa menunggu, tanpa menunda, keempat orang tersebut seketika menghentikan permainan, termasuk orang yang sepersekian detik lagi mencetak gol.

Mereka mengenakan pakaian, bersama-sama menuju suara azan terdengar.

Sial benar.

Saya tahu semua adegan itu berasal dari skenario, hanya saja, pesan yang ingin disampaikan benar-benar terang benderang.

Melihat kedua video yang saling berurutan itu, saya pikir, kok bisa pas ya. Lagi-lagi kengerian muncul tatkala mengingat bagaimana Facebook mendapatkan data kita.

Jangan-jangan kunci kecil untuk menyelesaikan masalah-masalah besar yang saya alami adalah salat. Jangan-jangan, saya hanya perlu memperbaiki salat.

Saya letakkan ponsel. Mematikan rokok yang baru tiga isapan tadi saya sulut. Menuju kamar mandi, berbersih, berusaha tampil sebaik mungkin sebelum menghadap-Nya.

Setelah semua ritual yang penuh nikmat itu. Saya teringat seorang mualaf yang menghilangkan segala keraguannya tentang Islam, setelah mendapatkan 'tanda' dari kejadian yang nyaris sama.

Bedanya, mualaf itu mendapatkan tanda dari Al-Qur'an. Sedangkan saya, malah dari Facebook. Apa pula ini?

Sebagai penutup catatan ini, saya sertakan transkrip dari mualaf itu. Begini:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah mengumpulkan kita semua di sini, malam ini. Juga karena memberi saya spot parkir yang bagus di depan (audiens tertawa).

Intinya malam ini, saya ingin bicara tentang perjalanan saya ke Islam.

Yang saya butuhkan dari Engkau, Allah, hanya sebuah tanda (sign). Cukup tanda kecil. Tidak terlalu besar, mungkin sekadar petir? (audiens tertawa)

Petir untuk Engkau, Engkau-lah yang menciptakan bumi. Ini sekadar petir, mudah saja.

Jadi, saya duduk dan berkata, "Oke, silakan!"

(menengok kanan kiri, audiens tertawa)

Saya bersumpah, tidak terjadi apa-apa. Sama sekali tidak ada. Saya sangat kecewa (audiens tertawa).

Saya bilang, Allah..., inilah kesempatan-Mu. Saya di sini, saya meminta kepada-Mu. Di mana tanda untuk saya? Ayolah.

Saya beri kesempatan lagi. Kali ini, tidak usah petir. Mungkin mendengar sedikit suara derit lantai. Mungkin mendengar suara knalpot mobil meledak (audiens tertawa).

Sesuatu yang saya tahu bahwa itu untuk saya. Tetapi orang lain tidak tahu. Hanya antara kita berdua.

Lagi-lagi saya bilang, silakan! Saya menunggu dan menunggu. Saya pikir saya menunggu sekitar satu menit. Saat itu rasanya lama sekali.

Dan tidak terjadi apa-apa sama sekali. Dan saya sangat kecewa.

Saya seperti berada di tepi jurang, saya akan melompat ke Islam, dan tidak ada yang mendorong. Saya belum melakukan lompatan itu.

Jadi saya pikir, saya akan terus membaca Al-Qur'an dan bertanya kepada orang-orang. Saya akan bilang telah berbicara dengan Allah, Dia telah menjawab saya. Tidak ada mesin penjawab. Tidak apa-apa.

Jadi, saya buka Al-Qur'an. Saya buka halaman berikutnya kelanjutan dari apa yang sudah saya baca sebelumnya.

Subhanallah, ayat berikutnya yang saya baca, bagi kalian yang meminta tanda-tanda, bukankah telah Kami tunjukkan cukup banyak kepadamu? Lihatlah di sekitarmu, langit, bintang, daratan, lautan. Ini adalah tanda-tanda bagi orang yang berpikir.

اَللّٰهُ الَّذِيْ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ يُدَبِّرُ الْاَمْرَ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاۤءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ ۝٢

Allah yang meninggikan langit tanpa tiang yang (dapat) kamu lihat. Kemudian, Dia berkuasa atas ‘Arasy serta menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang telah ditentukan (kiamat). Dia (Allah) mengatur urusan (makhluk-Nya) dan memerinci tanda-tanda (kebesaran-Nya) agar kamu meyakini pertemuan (kamu) dengan Tuhanmu.

وَهُوَ الَّذِيْ مَدَّ الْاَرْضَ وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْهٰرًاۗ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِيْهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝٣

Dialah yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dia menjadikan padanya (semua) buah-buahan berpasang-pasangan (dan) menutupkan malam pada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

(Surah Ar-Ra'd ayat 2-3)

Subhanallah, seketika dunia saya berubah.

Saya hanya menatap Al-Qur'an, saya terperanjat, saya tak percaya telah begitu sombong meminta tanda khusus untuk saya sendiri. Saat tanda-tanda telah ada di sekitar saya. Ada pencipta karena ada ciptaan.

Lalu saya tutup Al-Qur'an dan mendapat tidur terbaik. Keesokan harinya, saya langsung ke masjid. Tetapi ketika saya masuk ke masjid, orang-orang mulai berdatangan, saya bilang, subhanallah, lihatlah agama ini. Saya pernah ke gereja di mana ada 20, 30, 50 orang.

Ada sekitar 1.000 orang pada malam itu di masjid, dan saya pikir ini luar biasa. Ini benar-benar agama pilihan. Lalu saya baru tahu, itu malam pertama Ramadhan. (audiens tertawa)

(Video tersebut bisa kalian lihat di sini)

Sudah, ya. Kira-kira begitu. Intinya apa? Dapatkan kunci kecil kalian sendiri, misalnya salat yang benar-benar di awal waktu. Sekian. Dunia kita tidak akan berakhir hanya karena mengabaikannya selama lima menit untuk salat.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi