Ayah mau ambil motor, tetapi ibumu tidak peka
Ayah mau ambil motor, tetapi ibumu tidak peka, saya pikir adalah judul yang baik. Namun setelah menuliskannya, saya merasa buntu. Apa pula yang bisa dipanjang-panjangkan dari sebuah kalimat itu?
Lokasi bengkel hanya berjarak tiga rumah ke arah barat. Tentu, ayah bisa ke sana hanya dengan jalan kaki, atau bahkan sambil memejamkan mata.
Montir bengkel cukup ramah, ayahmu tidak perlu memasang telinga tebal untuk mendengarkan ocehannya tentang mengganti oli tahun lalu yang sudah disampaikan seratus dua belas kali kepada ayah sejak sebelas bulan belakangan.
Hanya saja, persoalan ayah menyampaikan bahwa mau mengambil motor kepada ibumu bukan karena minta antar atau berharap ada kata-kata pesan untuk berhati-hati.
Sesuatu yang paling sederhana dan masuk akal, bahwa jika seseorang mengantarkan motor rusaknya ke bengkel, saat mengambil harus memberikan uang sebagai ganti jasa.
Kita terlalu cepat meninggalkan sistem barter. Andai saja, montir itu berkenan menerima ucapan terima kasih yang tulus (entah setulus apa) sebagai ganti jasanya, ayahmu akan melakukannya.
Mari biarkan sepeda motor rusak itu tetap berada di sana, menginap lebih lama sampai ibumu peka. Ayah akan duduk di depan rumah sambil memandang hujan yang aneh ini.
Ternyata kamu datang, berniat menemani ayah. Lari kecilmu membikin lucu dilihat dari sudut mana pun.
Kamu mengatakan bahwa hujan tidak hanya muncul di luar, tetapi juga di pipi ibu. Beberapa saat kemudian, kamu mengatakan bahwa hujan juga muncul di pipi ayah.
Benar sekali, anakku, bukan ibumu yang tidak peka, ia mendengar dan memahami semuanya. Ayahmu saja yang sepenuhnya tersusun dari ketidakmampuan.
Hujan aneh itu jangan sampai muncul di pipimu, ya.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi