Apakah ada yang berduka tatkala saya tiada?
Saya sudah berhenti menulis dengan aroma kelabu yang samar dan getir. Dan pada tulisan kali ini, saya akan melakukan hal yang sama, sebisa mungkin mengikat leher tulisan lalu menyeretnya paksa pada kondisi yang terang dan berbahagia. Semoga.
Setiap manusia membutuhkan ketenangan, kemungkinan saya malah memiliki itu terlalu banyak di dalam kepala. Sehingga terlambat menyadari bahwa kondisi sekarang sudah runyam.
Seperti berdiri di ujung tanduk, kapan pun bisa jatuh.
Hingga pada suatu kejadian yang berbenturan langsung dengan saya. Kejadian yang cukup menampar, sedikit menyadarkan, dan sakitnya masih terasa hingga sekarang.
Alih-alih mendapat uluran tangan (seperti sebelumnya), yang saya panen hanyalah abai.
Tidak ada yang salah dari sikap mereka. Saya pun akan melakukan hal serupa kepada orang yang berkali-kali mengulangi kesalahan yang sama seperti sebelumnya.
Pada sebuah titik keheningan yang aneh di tengah kebisingan dunia, terlintas pertanyaan sembrono: Apakah ada yang berduka tatkala saya tiada?
Sejujurnya, saya khawatir, orang-orang terdekat menangis bukan karena mereka kehilangan saya. Namun karena terpaksa mewarisi beban yang seharusnya tidak ada.
Jika Anda tidak memahami apa yang saya sampaikan, itu jelas karena ketidakmampuan saya menyampaikan sesuatu menjadi lebih sederhana. Jadi, saya mohon untuk membacanya ulang dengan perlahan.
Itu pun kalau Anda merasa perlu memahami apa yang saya sampaikan.
Kalau tidak, bisa menganggapnya sekadar angin lalu yang berembus dari ketinggian gunung menuju dasar jurang paling purba.
Lagian saya tidak berniat menceritakan secara detail apa yang saya alami.
Seperti yang sudah pernah saya sampaikan, kalau betulan ingin tahu, bolehlah mengundang saya ke ruangan gelap dan berhantu, kemudian menuang anggur murahan itu beberapa kali ke seloki.
Setelah itu, kemungkinan saya akan bercerita akan semakin meningkat.
Terlepas dari itu semua, jangan pikir saya putus asa, lalu berlari kecil ke perlintasan kereta api terdekat, dan membiarkan moncong kereta mencium tubuh saya. Tidak.
Saya masih ingat betul ajaran sederhana tentang Allah Maha Melihat yang diajarkan orang tua sedari saya masih kecil. Ajaran yang kiranya sampai sekarang sudah menyatu dalam darah dan daging saya.
Masih terdapat keyakinan, bahwa kondisi ini akan berubah dan berlalu.
Semua akan kembali dalam kestabilan yang bahagia, dan saya akan kembali ke pinggir kali untuk memancing ikan tanpa terbebani persoalan finansial.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi