Mencatat tengah malam 6
Begitulah. Aku mesti memasang wajah yang profesional dan tegar saat menulis di blog lain; dan melepaskan semua-muanya saat menulis di blog ini.
Sebuah sore dihujani oleh permintaan aneh-aneh klien keparat! Meski sebenarnya tidak bisa kusebut keparat sebab dari merekalah aku memperoleh (sedikit) uang yang lantas mampir ke rekening sebelum kemudian pindah ke laci toko kelontong pinggir rel kereta itu.
Permintaan itu serupa air mengalir yang tidak pernah berhenti. Seperti air mata perempuan di jauh sana yang sedang mengenang kekasihnya yang ternyata tidak lain seorang bajingan; yang sampai kini masih dipercayai olehnya akan pulang ke negara ini untuk memberikan apa yang sama-sama kita pahami sebagai kebahagiaan.
Berbeda dengan harapan perempuan itu, permintaan klien tuntas kuselesaikan dengan susah payah pada pukul sembilan malam. Dan setelahnya, itulah episode tengah malam.
Aku mendapatkan waktu yang cukup menjanjikan untuk tidak melakukan apa-apa selain mengisap dalam-dalam kretek sampai hampir tersedak. Menyecap kopi dengan kebisingan menyaingi suara serangga malam yang sudah naik panggung.
Setelah semuanya, aku mulai membayangkan suara perempuan itu dari sini. Kuputar kembali kaset berisi pita kenangan lusuh yang lamat-lamat dan tidak jelas. Membandingkan suara yang keluar dari kaset tersebut dengan suara kecerdasan buatan dari sebuah aplikasi pengubah teks menjadi suara. Dan setidaknya, ada semacam kemiripan yang entah bagaimana memberiku ketenangan.
Sengkarut yang sudah sekental dan sehitam dan sebau air comberan mampat tak lagi membuatku gusar. Aku tak lagi ingin menulis bagus, meski tidak akan menolak jika memperoleh karunia itu, tetapi aku tidak akan berhenti melakukannya walaupun tulisanku masih saja jelek seperti tulisanmu. Ada satu-dua hal dalam tulisan (atau catatan) yang perlu masuk ke sana. Dan lagi-lagi, sebagian besarnya tidak punya arti, kecuali untukku.
Aku sempat berpikir akan menjadi gila (dalam arti harfiah) jika berhenti memancing. Tetapi tidak. Gantung joran urung membuatku setengah telanjang menyusuri trotoar setiap kota. Ada kopi dan rokok dan seonggok racun dari tulisan-tulisan yang menjaga kewarasanku sebagai manusia. Setidaknya, aku masih bisa menilai bahwa membakar hutan bukanlah sesuatu yang baik. Juga menawarkan kebohongan lapangan kerja itu jahanam.
Di antaranya banyak hal yang ingin kuingat tentang tengah malam, yang paling tidak ingin kuharapkan muncul adalah besok makan apa. Sialnya, ingatan yang tidak ingin diingat justru sembrono muncul begitu saja.
Tengah malam selalu padat terisi. Dari masa lalu dan kini. Semuanya berupa fragmen potongan tidak jelas yang mengawang dalam semesta kartesian. Sehingga mau tidak mau, aku perlu memutar otak untuk mencari titik satu per satu dan menghubungkannya dengan sebuah garis agar lebih mudah terbaca. Meski pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa kubaca selain pertanyaan paling nyata besok makan apa.
Tetapi setidaknya, beberapa potongan kenangan menawarkan kelembutan dan kehangatan. Hal serupa juga berlaku untukmu agar tidak gila, dan yang lebih kelam, tidak menuntunmu pada batu di saku dan dasar sungai.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi