Pengalaman pakai plugin optimasi gambar di WordPress

Pengalaman saya pakai plugin optimasi gambar di WordPress untuk blog ini cenderung kurang memuaskan.

Saya sempat menggunakan dua jenis plugin, yaitu Imagify – Optimize Images & Convert WebP & AVIF | Compress Images Easily dan Modern Image Format (Performance Lab).

Sekitar bulan Agustus sampai November saya pakai Imagify untuk kompres ukuran sekaligus mengubah otomatis ke format .webp.

Sedangkan akhir November sampai Desember saya pakai sub-plugin Performance Lab, yaitu Modern Image Format untuk kompres ukuran sekaligus mengubah otomatis ke format .avif.

Harapan saya semula adalah mendapatkan efisiensi disk usage untuk hosting kere kapasitas 600 MB ini, memperoleh kecepatan lebih baik untuk loading halaman, dan melengkapi markup schema Google.

Sayangnya, harapan tersebut mesti berakhir dan meninggalkan kesan pengalaman pakai plugin optimasi gambar di WordPress yang kurang memuaskan.

Mengapa dan bagaimana?

Plugin Optimasi Gambar Justru Menawarkan Sebaliknya

Baik Imagify maupun Modern Image Format seolah-olah memberikan ukuran lebih kecil, format lebih baik, dan kecepatan kencang.

Hasilnya justru benar-benar sebaliknya, khususnya bagi blogger pemula macam saya.

1. Munculnya File Duplikat yang Dihasilkan Plugin

Dalam post maupun page, memang menggunakan gambar yang sudah dioptimasi. Misalnya kamu upload image .jpg ukuran 500 KB, yang tampil adalah image .avif ukuran 80 KB.

Namun di folder WP-contents/Upload muncul duplikat gambar yang sangat banyak sekali. Padahal saya sudah menonaktifkan fitur simpan gambar original.

Beberapa duplikat file yang muncul antara lain:

  • image-upload.jpg (original)
  • image-upload.avif (hasil plugin)
  • image-upload-150x150.avif
  • image-upload-1024x744.avif
  • image-upload-768x558.avif
  • image-upload-300x218.avif
  • image-upload-1536x150.avif
  • image-upload-1.avif
  • image-upload-1-150x150.avif
  • image-upload-1-1024x744.avif
  • image-upload-1-768x558.avif
  • image-upload-1-300x218.avif
  • image-upload-1-1536x150.avif

Di mana semua hasil unggahan yang dihasilkan plugin di atas memiliki ukuran setidaknya 3x lebih besar daripada gambar original.

Pada saat itu, saya memang belum mematikan fitur Ukuran Gambar di pengaturan media. Sehingga banyak gambar duplikat yang muncul dalam berbagai ukuran untuk kegunaan theme responsif.

  • Ukuran miniatur
  • Ukuran sedang
  • Ukuran besar

Namun, lagi-lagi, bagi blogger pemula macam saya ini, kemunculan gambar dengan akhiran duplikat 1, 2, atau bisa sampai 3 bisa menjadi masalah besar. Contohnya:

  • image-upload.avif
  • image-upload-1.avif
  • image-upload-2.avif
  • image-upload-3.avif

Dan masing-masing punya duplikat ukuran miniatur, sedang, dan besar masing-masing. Wkwkwk ...

2. Kecepatan di PageSpeed Insight

Gambar dengan format standar (.jpg atau .png) tidak bisa menyaingi kecepatan format gambar modern (.webp atau .avif) berdasarkan parameter PageSpeed Insight.

Namun setelah saya coba-coba agar sembrono, misalnya melakukan kompres gambar format standar sampai pada ukuran dari 200 KB menjadi di bawah 90 KB, nyatanya tidak menimbulkan masalah seperti Largest Contentful Paint (LCP).

Jadi, saya berpikir dong, kalau format standar pun tidak membebani permuatan halaman asalkan ukurannya kecil, saya tidak perlu melakukan optimasi gambar menggunakan plugin.

3. Pakai Plugin Optimasi Gambar Bukan Keharusan

Ini hal yang harus sama-sama dipahami blogger di WordPress, bahwa penggunaan plugin optimasi bukan sesuatu yang wajib.

Bahkan, ini tidak menggunakan plugin SEO (Yoast, AIO SEO, dll), plugin optimasi gambar, plugin optimasi HTTP, plugin page builder, maupun plugin optimasi JS dan CSS.

Penasaran dengan apa saja plugin yang saya pasang di blog ini? Saya kasih bocoran.

Lihat? Tidak ada plugin yang macam-macam, bahkan untuk membuat homepage dengan custom post berdasarkan kategori, saya hanya memakai block bawaan WordPress.

Saya memahami betul, blogger pemula macam saya mungkin merasa khawatir karena artikel yang ditulis tidak optimal tanpa plugin.

Jadi, banyak atau sedikitnya plugin hanyalah selera. Dan plugin optimasi gambar bukanlah keharusan. Pasang plugin jika kamu memang benar-benar membutuhkannya dalam blog.

Kesimpulan

Menurut saya, setidaknya sampai artikel pengalaman pakai plugin optimasi gambar di WordPress ini saya tulis. Saya menganggap bahwa belum membutuhkan plugin tersebut.

Alasannya kalau harus ditulis secara lebih detail, mencangkup poin-poin berikut.

  • Manfaat yang saya dapatkan lebih kecil daripada risikonya, seperti risiko disk usage hoting kere penuh dan munculnya masalah restore backup error.
  • Asal ukuran gambar format standar (.jpg atau .png) tidak lebih dari 90 KB, tidak menimbulkan masalah Largest Contentful Paint (LCP) di PageSpeed Insight.
  • Memasang plugin optimasi gambar bukan kewajiban, ini hanya saran agar mendapatkan optimasi kecepatan dan permuatan img lebih baik dengan menggunakan format gambar modern macam .webp atau .avif.
  • Untuk blog mancing filosofish yang biasanya per artikel hanya include 1 atau 2 gambar, meski melakukan optimasi yang maksimal tidak berdampak signifikan.
  • Plugin optimasi gambar memunculkan gambar duplikat dalam jumlah banyak, dan kabar buruknya adalah gambar duplikat yang muncul harus dihapus manual!
  • Faktor teknis yang berkaitan dengan minimnya pemahaman saya sendiri terkait plugin WordPress.

Tidak semua website harus mengikuti arus besar tren optimasi, apalagi untuk website blog hobi mancing filosofish yang notabene menghindari kompetisi.

Sesuaikan pemasangan plugin optimasi dengan kebutuhan website kamu. Kalau kamu orientasinya harus muncul di halaman pertama SERP, berbagai plugin optimasi sangat penting kamu pasang.

Sampai sekarang, di folder WP-contens/Uploads, masih ada sisa-sisa gambar duplikat yang dihasilkan oleh plugin optimasi gambar.

Saya pernah mencoba hapus manual satu per satu, justru gambar original yang digunakan di post hilang. Bahkan saya sudah menggunakan plugin image cleaner seperti WPS Cleaner dan Media Cleaner Pro yang sama sekali tidak membantu.

Jadi, ya saya biarkan saja tetap di sana sebagai bukti kecerobohan menggunakan plugin optimasi gambar tanpa pemahaman yang cukup pada saat itu.

Sekian dulu pengalaman pakai plugin optimasi gambar di WordPress. Jika kamu memiliki pengalaman yang agaknya sama, bolehlah kita sharing di komentar.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi