Tidak semenakutkan seperti di imajinasi

Sore itu saya buru-buru pulang untuk menghadiri undangan genduri (genduren).

Sebentar saja meluruskan punggung yang rasanya sudah tua. Lalu menjajal mengurangi sengkarut yang entah kapan akan selesai.

Ternyata sudah pukul enam sore lebih beberapa strip. Dua orang tetangga memanggil dari luar. Membuyarkan lamunan sengkarut yang rumit itu.

Saya letakkan sengkarut di tempat tidur sembari menjawab panggilan tadi.

Membiarkan registrasi hosting dan domain dari IdWebHost yang baru enam jam lalu, yang belakangan saya ketahui ternyata diblokir Kominfo.

IdWebHost tidak tidak mau tahu. Tidak bisa refund karena paket promo. Dan terpaksa mengikhlaskan hal tersebut menambah panjang deretan sengkarut yang saya coba selesaikan.

Baiklah... Saya ambil kopiah, mengikuti dua orang yang sudah sejak lama berada di depan sana.

Alamak, gak dapat tempat duduk, pikir saya.

Betul saja, semua tempat strategis --yaitu tempat yang tidak mencolok-- sudah diduduki bapak-bapak lain.

Saya kebagian di bagian paling tengah sendirian. Dikelilingi orang-orang. Dihujam tatapan semuanya. Sudah seperti kiai yang hendak menyampaikan khotbah tentang kesabaran.

Ternyata... Berada dalam kondisi ini tidak semenakutkan seperti imajinasi. Tidak seperti yang saya bayangkan.

Saya tetap bisa santai, mengabaikan tatapan semuanya sebagaimana yang sudah saya lakukan sejak dahulu kala.

Nyaris pukul setengah delapan malam itu genduri selesai pada akhirnya. Saya pulang. Mengambil lagi sengkarut yang tadi saya letakkan.

Aih, lagi-lagi itu: Hidup begitu indah sengkarut dan hanya itu yang kita punya...

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi