Ziarah kubur Jemuah legi
Hari ini Jemuah (Jumat) legi. Dalam konteks ini, sebenarnya berarti Kamis setelah pukul 12 siang. Pada waktu ini sudah masuk hari berikutnya, Jemuah dengan pasaran legi. Makanya, kalau-kalau kau lahir pada Sabtu sore atau malam, orang tua akan menetapkan Minggu sebagai hari kelahiranmu.
Siang ini aku pulang tanpa alasan. Begitu saja. Seperti kosong yang sadar. Atau, semacam ada kekuatan tak kasat mata yang menggerakkan wadah ini untuk pulang jika kita mempercayai takhayul.
Tetapi sungguh. Legi yang dalam bahasa kita berarti manis. Itu jugalah keramat. Dan bukan takhayul.
Lantas pada sore harinya, aku diingatkan ibu bahwa hari ini adalah Jemuah legi. Dia bertanya yang maksudnya sudah jelas untuk menyarankan bahwa apakah aku tidak "mengunjungi" ayah?
Kebetulan masih ada uang 10 ribu yang entah bagaimana tetap berada di tas selama tiga hari. Barangkali uang juga memiliki maksud.
Segera aku berlari kecil ke belakang dan mengambilnya. Uang itu dalam sekejab berpindah tangan ke penjual bunga sebelah permakaman. Beberapa waktu kemudian bunga-bunga itu berpindah ke tanah permakaman di sebelah penjual bunga.
Dan kalau kau tidak pernah berkunjung ke permakaman pada Jemuah legi, cobalah sesekali. Ini lebih mirip pasar malam yang mau buka.
Ziarah kali ini sedikit lebih baik daripada sebelum-sebelumnya, sebab aku membawa bunga.
Jemuah legi yang manis.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi