Mencatat ayam mati

Ini bukan ayamku. Tentu saja. Sejak kecil sampai setua ini tidak kusukai unggas kecuali dalam keadaan matang. Bisa digoreng saja atau ditumis dengan saus pedas. Makanan itu tidak sehat. Lebih sehat membakar ayam dengan bumbu hanya garam. Karena alasan makanan pula konon penaklukan dunia Genghis Khan berakhir.
Tetapi, catatan ini hanya akan membahas sesuatu yang lebih sederhana. Barangkali Genghis pun belum pernah mengalaminya; menyembelih ayam yang nyaris modar karena aratan, memasaknya sedemikian rupa sampai matang, lantas memakannya sembari menghalau pikiran untuk tidak mengingat bagaimana potongan ayam itu sampai di meja makan.
Ini bukan ayamku. Aku akan lebih suka memelihara ikan karena tidak perlu repot memberinya minum di samping makan. Tetapi, kesedihan dan kekecewaan pemiliknya terasa pada setiap suapan. Karena itu pula, aku tidak perlu berpikir tentang wabah dan virus.
Dulu, ada seorang menteri di negara dunia ketiga yang mampu menang melawan kekuatan raksasa. Dia cukup punya nyali serupa singa betina. Menyelamatkan bangsanya, yang justru berakhir dipenjara.
Terlepas dari keparatnya sistem celaka itu, dia telah membuktikan wabah yang menyerang unggas tidak berdampak kepada manusia.
Aku sempat membaca sedikit berita perjuangan heroiknya dua hari lalu sebelum menemukan ayam-ayam peliharaan seseorang tertimpa musibah aratan.
Alam seringkali begitu dengan memberi tanda-tanda untuk sesuatu yang akan datang. Tetapi, catatan ini juga tidak akan membahas tanda-tanda yang belum mampu kutulis dengan lurus.
Catatan ini hanya akan membahas sesuatu yang lebih sederhana tentang ayam-ayam mati tertimpa aratan.
Baiklah...
...aku lupa hendak menulis apa.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi